Gratis
Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto, terkini, nasional,ekonomi,sosial,budaya
  • BISNIS & TEKNOLOGI
  • SOSOK
  • Pertanian
  • Agama
  • Hukum&Kriminal
  • Pendidikan
  • Nasional & Olahraga
  • Advertorial Daerah
  • Politik
  • Riau
  • OPINI & Goresan
  • Indeks
  • Senin, 22 Januari 2018
    Find us: 
    Home  / SOSOK
    CAKAP KHUSUS
    Lukman Edy: Dukungan Gerindra Bawa Berkah Politik
    Minggu, 14 Januari 2018 | 08:55:46
    Lukman Edy-Hardianto

    PEKANBARU- Lukman Edy merasa mendapatkan berkah politik ketika dirinya ditetapkan Partai Gerindra dan PKB menjadi bakal calon gubernur Riau dan berpasangan dengan Sekretaris DPD Partai Gerindra Riau, Hardianto. Kepada CAKAPLAH.com, pria yang akrab disapa LE ini bercerita tentang bagaimana lika-liku politik sehingga dirinya maju dan berpasangan dengan Hardianto yang berusia 10 tahun lebih muda dari dirinya. Berikut petikan wawancaranya:

    Bisa Anda ceritakan tentang dinamika politik yang terjadi sehingga muncul pasangan Lukman Edy-Hardianto?

    Tiga hari menjelang penutupan pendaftaran di KPU, saya merasakan sekali bagaimana dinamika politik Pilkada ini terjadi tarik menarik di tingkat DPP partai. Dan dalam tiga hari itu, saya tidak melihat ada transaksi uang dalam negosiasi penetapan calon seperti yang diduga banyak orang. Yang terjadi itu adalah tarik menarik barter calon di beberapa daerah. 

    Contohnya, saya dengan Asri Auzar (Ketua DPD Partai Demokrat Riau, red). Saya masukkan Sumatera Utara untuk barter dengan Demokrat agar Demokrat mengusung saya dan Asri di Riau. Namun, ternyata DPP Demokrat lebih dahulu mengeluarkan SK untuk Firdaus-Rusli Effendi. Akhirnya, DPP PKB meminta pendapat saya apakah PKB di Sumatera Utara tetap berkoalisi dengan Demokrat atau tidak.

    Karena saya sudah sudah membangun koalisi dengan Gerindra, akhirnya saya lepaskan saja Sumatera Utara itu untuk tetap gabung dengan Demokrat. Apalagi Ance Selian (bakal calon Wakil Gubernur Sumut, red) yang dimintai Demokrat untuk berpasangan dengan JR Saragih (bakal calon Gubernur Sumut) itu adalah teman saya. Ance itu ketua PKB Sumut. 

    Kenapa pilihannya ke Partai Gerindra?

    Seperti saya ceritakan tadi, pertelagahan lintas partai dalam tiga hari menjelang penutupan pendaftaran itu sangat dinamis. Prabowo (Ketum Gerindra) dan Cak Imin (Ketum PKB) berhasil membangun komunikasi untuk berkoalisi di Pilkada Jawa Tengah. Dan barternya adalah Riau, dimana Gerindra dan PKB juga berkoalisi. Kalau sekiranya di Jawa Tengah itu PKB berkoalisi dengan Airlangga (Ketua DPP Golkar), mungkin bisa lain ceritanya.

    Secara politik, apa yang menguatkan Anda untuk tampil di Pilkada Riau ini?

    Suatu pagi menjelang pendaftaran, saya mendapat rilis dari Denny JA (Pendiri lembaga konsultan politik LSI). Dalam rilis tersebut disebutkan, jika tiga nama yang bertarung antara Andi Rachman, Firdaus dan Syamsuar, maka yang menang adalah Andi Rachman. Tapi kalau dari tiga nama itu ada nama LE atau Harris, maka yang unggul adalah antara LE atau Harris.

    Lalu, ada juga simulasi empat nama yang bertarung, yakni Andi, Syamsuar, Firdaus dan LE. Dan menurut hasil survei LSI itu, LE yang menang. Makanya, saya kuatkan untuk terus maju. Namun, seandainya yang bertarung itu Andi, Harris dan Firdaus. Maka saya putuskan tidak maju. 

    Anda sudah diputuskan berpasangan dengan Sekretaris Partai Gerindra Riau, Hardianto, sebagai calon Wakil Gubernur Riau. Apa pendapat Anda?

    Saya memang minta kader Gerindra untuk berdampingan dengan saya. Partai Gerindra itu adalah partai kader. Sama seperti PKB. Tentunya, yang dipersilahkan maju itu adalah kader partainya. Lalu, tentang siapa nama kadernya, itu kita serahkan bulat-bulat kepada Gerindra untuk memutuskan. 

    Siapa saja yang mencuat saat itu?

    Ada tiga nama. Ketua DPD Gerindra Riau Eddy Tanjung, Sekretaris Gerindra Riau Hardianto dan musisi terkenal Ahmad Dani. Dan diputuskan oleh Gerindra kepada Hardianto. Alhamdulillah.

    Setelah diputuskan, langsung kita eksplor siapa sebenarnya Hardianto ini. Ternyata Hardianto ini punya banyak keunggulan-keunggulan. Pertama dia masih muda, masih 38 tahun. Artinya 10 tahun lebih muda dari saya. Dia juga aktivis Forkom Ipemari (Forum Komunikasi Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Riau) yang saya dirikan. Secara geopolitik dia ini dari Riau Pesisir. Dan dari tuntutan zaman now, dia cocok.

    Anda tidak takut dengan tingkat elektabilitas Hardianto yang belum begitu mencuat dibandingkan calon-calon dari rival Anda?

    Begini. Saya ini kan selalu mendorong masyarakat untuk berpolitik rasional. Untuk membudayakan politik rasional ini, saya selalu berkonsultasi dengan konsultan politik yang ada. Kata konsultan politik kami, untuk calon gubernur yang tidak memiliki nilai elektabilitas, pengaruh wakil bisa menaikkan elektabilitas sebesar 20 persen. 

    Namun bagi calon gubernur yang telah memiliki eletabilitas bagus, maka pengaruh calon wakil untuk menaikkan dan menurunkan elektabilitas tidak terlalu signigfikan. Jadi, ya tidak ada persoalan.

    Selain hasil masukan konsultan tadi, apa lagi yang membuat Anda optimis berpasangan dengan Hardianto?

    Bagi saya, berkoalisi dengan Gerindra ini menjadi keberkahan tersendiri bagi saya. Apa sebab? Ternyata, berdasarkan hasil survei yang ada, elektabilitas Partai Gerindra di Riau naik cukup signifikan. Jika hari ini diadakan Pemilu di Riau, maka jumlah kursi Gerindra di DPRD Riau bertambah dua kali lipat, dari sekarang 7 kursi menjadi 14 kursi. 

    Kemudian, ternyata elektabilitas Prabowo di Riau juga semakin naik. Apabila dibandingkan dengan elektabiltas Jokowi, maka perbandingannya 65 persen Prabowo dan 35 persen Jokowi. Artinya, ada penurunan elektabilitas Jokowi di Riau yang awalnya di Pilpres lalu 49 persen menjadi 35 persen.

    Terakhir, apa tanggapan Anda mengenai video viral Prabowo yang menyebutkan butuh uang banyak untuk bisa jadi kepala daerah, termasuk statemen La Nyalla yang menyudutkan Prabowo?

    Lebih ngeri lagi kasus yang menimpa Setya Novanto saat menjabat Ketua Partai Golkar. Atau kasus yang melibatkan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq (LHI) dalam kasus impor daging. Setahu saya, kasus LHI ini menggerus hampir setengah perolehan kursi PKS di DPR.

    Kalau pidato Prabowo yang viral sekarang itu bagi saya adalah hal yang normatif. Kan Prabowo tidak bilang uang itu untuk membeli partai, tapi untuk biaya kemenangan. Katanya, kalian harus punya modal untuk menang. Dan itu hal normatif karena memang untuk konsolidasi atau membayar saksi itu perlu dana. Bahkan, dalam aturan yang ada, ada kok pengaturan tentang dana-dana Pilkada ini. Jadi, bagi saya itu hal normatif saja.

    Penulis:Abdul Latif cakaplah
    Editor:Ali cakaplah
    Berita ini telah dipublikasikan di cakaplah.com


    Akses berita terbaru versi mobile di: m.wasiatnews.com
    Tinggalkan Komentar
    Nama*:
    Email*:
    Website:
    Komentar*:
    : * Masukkan kode disamping!
    © 2013 wasiatnews.com All rights reserved by. arieweb