Gratis
Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto, terkini, nasional,ekonomi,sosial,budaya
  • BISNIS & TEKNOLOGI
  • SOSOK
  • Pertanian
  • Agama
  • Hukum&Kriminal
  • Pendidikan
  • Nasional & Olahraga
  • Advertorial Daerah
  • Politik
  • Riau
  • OPINI & Goresan
  • Indeks
  • Senin, 22 Januari 2018
    Find us: 
    Home  / SOSOK
    Irwan Nasir: PAN Mencatat Tiga Kandidat, dan Keputusan Final Insya Allah tak Meleset
    Kamis, 21 Desember 2017 | 23:30:40

    PEKANBARU - Partai Amanat Nasional (PAN) terus menggodok nama kandidat yang akan dimajukan di Pilgubri 2018 mendatang. Dan menurut Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Riau, Irwan Nasir, ada tiga pasangan kandidat yang sedang beradaptasi di tubuh PAN. Berikut petikan wawancara CAKAPLAH.COM dengan Irwan Nasir:

    Bagaimana kondisi 'now' tentang proses politik Pilgubri di tubuh PAN?

    Terus berproses, masih terus berproses. Dan secara formil, setakat ini PAN mencatat ada tiga paslon kandidat, yakni Syamsuar-Edi Natar yang menjabat Danrem sekarang, pasangan Achmad bersama saya, serta Firdaus dengan pasangan yang masih tanda tanya.

    Bisa diceritakan sekilas tentang munculnya nama-nama tadi?

    Kenapa muncul nama Syamsuar, itu memang karena bahasa politik dari bawah, dari tingkat DPD kabupaten/kota hingga level DPW. Dan kalau kita mendukung pasangan ini, saya rasa struktur PAN dari bawah bisa solid. Karena itu tadi, pasangan ini memang muncul dari suara-suara kader kita di bawah. Artinya, ini muncul dari proses bottom up.

    Saya ingin cerita juga sedikit, pasangan Syamsuar dengan Edi Natar yang kini jadi Danrem itu awalnya juga berdasarkan komunikasi PAN dengan Gerindra. Saat itu saya ditelpon dari DPP Gerindra langsung, meminta PAN untuk menguatkan dukungan kepada Syamsuar dan menduetkannya dengan Edi Natar. Kata yang menelpon saya, nantinya Edi Natar ini akan direkrut jadi kader Gerindra. 

    Setelah saya berkomunikasi dengan kader dan DPP, kita setujui duet Syamsuar-Edi Natar ini sebab kita lihat duet ini bagus. Bahkan, saya pun mengundurkan diri dari pencalonan Pilgubri. Ya, saya kan tak mau ngotot juga untuk maju kalau memang kita lihat ada calon lain yang memang bagus dan punya komitmen yang kuat untuk daerah ini. Tapi entah mengapa, belakangan Gerindra tarik diri dari paduan Syamsuar-Edi Natar. Kita kan bingung juga, nggak tahu apa masalahnya. Padahal awalnya, pasangan Syamsuar-Edi Natar ini, Gerindra inisiatornya. 

    Waktu berlanjut, ternyata limit waktu untuk Syamsuar mencari kursi tambahan dan pasangan sudah habis. Lalu muncullah nama Firdaus yang juga dapat rekomendasi dari PAN.

    Dengan habisnya limit waktu bagi Syamsuar untuk mencari pasangan habis, apakah ini berarti Syamsuar di PAN juga 'habis'?

    Ooo tidak.. Bukan berarti limit itu habis, dukungan terhadap Syamsuar dicabut, tidak. Tidak begitu. Kalau dia bisa mencari koalisinya, tetap dia akan didukung. Namun kalau ada opsi lain, ya beliau harus dukung juga.

    Kalau tadi Syamsuar berproses dari bottom up, apakah Firdaus juga melalui proses itu?

    Firdaus ini masuk jalur Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Jadi, ini top down-lah

    Jadi begini, awalnya Firdaus berkomunikasi dengan saya. Namun karena ketika itu kita sudah putuskan bahwa PAN mendukung Syamsuar, tentulah kita patuh dengan putusan partai. Kita jaga itu. Karenanya saya belum maksimalkan komunikasi dengan Firdaus ketika itu.

    Namun, dalam dinamika yang ada, ternyata Firdaus dapat juga rekomendasi dari PAN. Dan ia masuk lewat jalur Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai langung. Jadi, ini mekanisme top down-lah. 

    Nah, ketika Firdaus sudah dapat rekomendasi PAN dari DPP, ternyata persoalan siapa wakil yang dibawanya, belum pas di PAN. Jadi, belum clear masalahnya dengan siapa dia berpasangan, pasangannya masih dengan tanda tanya.

    Kini muncul nama Achmad yang akan dipaketkan dengan Anda. Itu bagaimana ceritanya?

    Sekarang begini, komunikasi yang intensif itu dilakukan bersama Demokrat. Mulai dari DPW sampai ke DPP, sehingga muncullah wacana untuk memasangkan Achmad dengan saya. Itu sudah dibicarakan di tingkat DPP. Dan para ketua di tingkat DPP kedua partai sudah merespon positif. Bagi saya, kalau yang lain tak bisa, ya saya majulah. 

    Kemudian, baru-baru ini muncul pula foto antara Lukman Edy dan Ketua DPP PAN Zulkifli Hasan di media sosial. Apakah ini sinyalemen bahwa PAN juga akan memberi ruang untuk mengusung Lukman Edy di Pilgubri?

    Kalau ketemu dengan Zulkifli Hasan itu boleh saja. Siapa saja boleh bersilaturahmi dengan Ketua MPR RI-nya. Namun yang jelas, saat ini yang bergulir itu ada tiga nama tadi: Syamsuar-Edi Natar, Achmad dengan saya, dan Firdaus dengan pasangannya yang masih tanda tanya.

    Kalau sudah begitu kondisinya, bagaimana ending dari proses ini?

    Kita berpolitik itu harus pakai etika dan memutuskan harus melalui prosedur. Dan PAN istiqomah dengan mekanisme yang ada. Kita tak mau pakai jurus mabuk dengan menjanjikan orang kemana-mana. Ke sini kita janji yang ini, kesana lain pula janji kita. Dan menurut saya, siapa nanti yang akan diusung PAN ya tak jauh-jauhlah dari tiga nama tadi. Kecuali nanti ada hal yang luarbiasa yang menjadi pertimbangan. 

    Editor:Alzal
    Sumber: cakaplah


    Akses berita terbaru versi mobile di: m.wasiatnews.com
    Tinggalkan Komentar
    Nama*:
    Email*:
    Website:
    Komentar*:
    : * Masukkan kode disamping!
    © 2013 wasiatnews.com All rights reserved by. arieweb