Benner
Gratis
Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto, terkini, nasional,ekonomi,sosial,budaya
  • BISNIS & TEKNOLOGI
  • SOSOK
  • Pertanian
  • Agama
  • Hukum&Kriminal
  • Pendidikan
  • Nasional & Olahraga
  • Advertorial Daerah
  • Politik
  • Riau
  • OPINI & Goresan
  • Indeks
  • Senin, 11 Desember 2017
    Find us: 
    Catatan H. Dheni Kurnia
    Hilman dan Setnov
    Minggu, 19 November 2017 | 22:17:29
    H Dheni Kurnia

    HILMAN Mattauch berteman baik dg Setya Novanto (Setnov), Ketua DPR-RI, saat ini. Seperti saya berteman baik dg Bupati Pelalawan HM Harris dan hampir semua Bupati di Riau. Bahkan dg Gubernur Riau saat ini, Arsyad Juliandi Rahman, saya pun bisa menelepon dia kapan saja.

    Masalahnya, kini Hilman yg wartawan Metro TV tersebut, sedang dicari polisi. Bahkan dia sudah ditetapkan kepolisian sebagai tersangka. Kasusnya, bukan karena memyupiri Setnov, tapi karena lalai mengemudikan kendaraan, sehingga menyebabkan kecelakaan dan Setnov diduga menderita geger otak?

    Kasus Hilman dan Setnov, memang tiba tiba dibicarakan dimana mana. Pasalnya, yang disupiri wartawan itu adalah Setnov, Ketua DPR yang menjadi "buronan" Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena diduga mengkorupsi uang rakyat Rp.2 triliun lebih.

    Setnov yang sudah dinyatakan DPO (Daftar Pencarian Orang) oleh KPK memang tokoh yg kontroversial. Berkali kali terjerat hukum, tapi berkali kali pula bisa lepas. Namun kali ini, Setnov seperti kata pepatah; sepandai-pandai tupai melompat, sesekali akan jatuh juga.

    Setnov saat ini, memang diibaratkan sebagai tupai yg jatuh. Dan jatuhnya tepat pula di batu tajam, sehingga kepalanya membesar yang membuat dia lupa ingatan. Kondisi Setnov pagi ini, seperti yang ditulis sejumlah media, bahkan pengakuan dari pengacaranya, tak mampu berkata kata dan bahkan sering hilang ingatan.

    Lalu apa hubungan Hilman dengan Setnov? Hilman adalah koordinator wartawan yang meliput di DPR Senayan. Wajar saja, bila kemudian Hilman bisa dekat dengan Setnov. Andai Hilman bertugas di Istana Presiden, bisa saja dia dekat dengan Presiden Jokowi atau Wapres Jusuf Kalla karena dia punya kepentingan pemberitaan.

    Tapi kemudian Hilman "menjadi hebat", karena dia bisa memyupiri Setnov yang sedang jadi buron KPK bahkan setelah itu dia menjadikan Setnov geger otak dan Hilman sendiripun menjadi tersangka oleh kepolisian.

    Apakah Hilman bersalah? Menurut saya, belum tentu. Sebagai seorang wartawan, Hilman jelas harus mengerjakan tugas dari kantor dan harus pula melahirkan karya jurnalistik. Seorang wartawan akan dikenal karena karyanya. Hilman tahu betul masalah ini, karena dia terbilang wartawan senior.

    Bila kemudian Hilman bisa melakukan wawancara eksklusif dengan Setnov, atau membawa Setnov ke studio untuk siaran langsung, ini adalah hasil kerja wartawan profesional. Untuk hal ini, Hilman jauh lebih hebat dari wartawan lain. Saya sendiripun belum tentu bisa membawa Setnov ke kantor redaksi saya, apalagi mendapatkan wawancara eksklusif.

    Karena itu, saya sepakat dengan wartawan senior, Machsus Tamrin, sesama rekan Hilman di media televisi, jangan dulu memonis Hilman bersalah dan bersekutu dengan Setnov. Karena bisa saja dia “menculik” Setya Novanto malam itu, untuk membawanya ke studio bagi sebuah wawancara eksklusif, karena Setnov sudah ditetapkan KPK masuk DPO. Tapi bila langkah ini dimaksudkan untuk menyelamatkan Setnov dari kejaran aparat berwenang, ini jelas pelanggaran hukum.

    Machsus menjelaskan, kedekatan wartawan dengan narasumber ini adalah hal yg biasa saja. Hilman dekat dg Setnov adalah sebuah interaksi positif dalam pekerjaan. Dalam teori jurnalistik yang diajarkan pada seorang wartawan pemula, yang tak boleh dilanggar adalah tembok api (firewall theory).

    Secara sederhana dalam teori tersebut, para narasumber, pemasang iklan, bahkan pemilik media sekalipun, tidak boleh mempengaruhi redaksi atau wartawan di medianya. "Tembok api" haram hukumnya untuk dilanggar. Dalam kasus Hilman dan Setya Novanto ini, jelas mengingatkan kita semua para jurnalis, untuk menjaga jarak dengan si tembok api.

    Jaga jarak. Memang itulah kuncinya. Saya baik dengan semua narasumber, tapi haram bagi saya bila mematuhi semua yang dikatakan narasumber atau justru narasumber mempengaruhi pemberitaan di media saya.

    Kisah Hilman dan Setnov, adalah sebuah pembelajaran besar bagi wartawan Indonesia. Mari kita terus belajar dan bekerja secara profesional saja. ***

    H. Dheni Kurnia adalah Wartawan Senior, Penyandang Dan-V Karate-do TAKO Indonesia.


    Akses berita terbaru versi mobile di: m.wasiatnews.com
    Tinggalkan Komentar
    Nama*:
    Email*:
    Website:
    Komentar*:
    : * Masukkan kode disamping!
    © 2013 wasiatnews.com All rights reserved by. arieweb